Minggu, 03 Juli 2022

Kemajuan Daerah Hanyalah Utopis Jika Egosentris dan Sektarian Menggorogoti Akal Mahasiswa

 


Kemajuan Daerah Hanyalah Utopis Jika Egosentris dan Sektarian Menggorogoti Akal Mahasiswa

Oleh : Defri Ramadhan 
(Ketum Kerukunan Keluarga Sape Malang)

     Pada dasarnya transisi status dari siswa menjadi mahasiswa adalah awal peristiwa terjadinya perubahan skala besar pada individu. Lingkungan kemahasiswaan sangat berbeda jauh dengan lingkup siswa. Proses transisi tersebut jika direnugkan merupakan suatu hal yang sakral dalam hidup, ketika berani hadir dengan mengemban identitas sebagai civitas akademik dengan pola pikir atau mind set , kapasitas dan kapabilias yang lebih maju dan menjadi senjata utama serta pembeda. Sehingga tidak diragukan bahwa kekuatan tersebut menjadi indikator untuk membawa suatu perubahan di Daerah asal atau tempat kelahirannya. Akan tetapi, semua tergantung pada orientasi yakni mau disalurkan di mana ilmu yang didapatkan. Hal tersebut tergantung pada civitas akademik tersebut.

     Civitas akademik seperti mahasiswa seharusnya memiliki peran sentral di masyarakat dengan metode penyaluran atau transfer ilmu , ide dan gagasan untuk membawa kemajuan pada skala mikro maupun makro. Akan tetapi, hal tersebut hanyalah bualan belaka ketika tipe mahasiswa dominan apatis yang kemudian mengarah pada egosentris dan sektarian. Ketiga hal tersebut seakan membudaya dan kemudian menjadi prinsip dan arah hidup mahasiswa yang seharusnya memberikan bukan lagi menawarkan sesuatu perubahan di skala sosial-kemasyarakatan. Sehingga tidak salah bahwa hari ini, faktanya entitas mahasiswa hadir dalam bentuk pasif ketika pulang ke daerahnya masing-masing.

        Perlu disadari, bahwa tidak bisa menafikkan kehadiran persoalan-persoalan yang menjadi stimulus tumbuhnya perspektif apatis, egosentris dan sektarian pada skala sosial khususnya mahasiswa merupakan bobroknya pemerintahan. Tiap-tiap daerah memiliki pola dan metode pemerintahan yang berbeda. Hal tersebut dipengaruhi tatanan struktur sosial dan budaya. Kemudian teknologi dan informasi yang semakin berkembang menjadi tantangan besar bagi para mahasiswa yang dibaluti istilah agent of change akibat pergesaran tatanan sosial dan budaya di masyarakat. Sehingga kesulitas-kesulitan yang ada kemudian menjadi dasar lahirnya sifat apatis, egosentris dan sektarian.

       Secara garis besar, pengertian dari apatis, egosentris dan sektarian merupakan sebuah pola pikir atau prinsip yang mengarah pada sikap intoleran baik skala sosial maupun pemikiran dalam aspek aplikatifnya. Sebab personalia yang intoleran akan mengarah pada sifat individualistis karena hanya memikirkan dirinya sendiri. Pada konteks mahasiswa, jika berdiri atas konsep tersebut maka dipastikan segala impian dan cita-cita sebagai entitas civitas akademik secara normatif hanya sekedar halusinasi saja. Sebab, identitas sebagai mahasiswa perlu dimaknai secara mendalam perannya dalam posisi penengah antara pemerintah dan rakyat. Di mana hadir sebagai penyaring kebijakan pemerintah dan penyalur kepentingan atau kebutuhan rakyat.

     Tidak sedikit mahasiswa memiliki orientasi untuk memperjuangkan nasib kembali ke tanah kelahiran atau daerah masing-masing. Dengan cita-cita dapat menjadi orang sukses dan memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan daerah. Namun rencana hanyalah omong kosong ketika pergerakan secara sosial dari skala kecil seperti akar rumput tidak ada pada pola pikir dan semangat juang mahasiwa sebagai generasi yang membawa perubahan pada lini struktur sosial maupun struktur politik. Maka tidak heran faktanya ketimpangan ekonomi maupun sosial yang terjadi di lingkup daerah bukan lagi kurangnya perhatian negara ataupun pengaruh kandungan kekayaan alam daerah sebagai stimulus ekonomi. Akan tetapi peran mahasiswa belum memberikan pengaruh pada kapasitas pengembangan masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengikuti perkembangan era globalisasi di mana rakyat dituntut untuk andil dalam era teknologi dan informasi dan oengaruhnya dalam segala lini kehidupan. Maka dari indikator tersebut, menegaskan bahwa keberadaan mahasiswa sebagai pembawa kemajuan dan perubahan di daerah bisa dikatakan utopis.

       Hari ini, mahasiswa harus kembali pada pengertian atau pemaknaan posisinya sebagai element sentral yang memberikan keseimbangan hubungan vertikal antara pemerintah dan rakyat. Ssehingga pemikiran-pemikiran yang konstruktif harus menjadi landasan dalam berpetualang di daerah masing-masing. Sebab era globalisasi bukan lagi pada perihal individualistik dan keberhasilan harus melalui pola kolaboratif lewar pergerakan kelompok, komunitas dalam skala akar rumput. Maka mahasiswa harus bisa memaknai secara aplikatif ilmu pengetahuan yang didapatkan selama 4 tahun menjadi civitas akademik dan tidak hadir sebagai sosok asing dilingkungan masyarakat.

        Pada akhirnya, semua cita-cita dan harapan masyarakat yang pasrah akan sistem baik dalam struktut politik, sosial dan ekonomi bisa dituangkan di wadah entitas mahasiswa yang memiliki kapasitas dan kapabalitas dalam memperjuangkannya. Keberadaan mahasiswa bukan sebagai pembuktian untuk mendapatkan pengakuan, akan tetapi hadir sebagai jembatan penghubung yang sakral sebagaimana sakralnya proses transisi dari level siswa menjadi mahasiswa. Kemajuan bangsa pada skala nasional dan khususnya skala kedaerahan bergantung pada bagaimana peran mahasiswa dalam mengambil peran di lingkup kemasyarakatan dengan metode transformatif untuk menjadikan masyarakat berkembang mengarah selaras dengan modernitas atau tuntutan zaman. Maka prilaku egosentris dan sektarian bukanlah karakteristik dari mahasiswa yang memiliki peran vital dilingkup kenegaraan dan lebih khususnya kedaerahan.


Note :

Facebook penulis : Defri Ramadhan













Sabtu, 31 Juli 2021

ILMU,AMAL, DAN BENIH KESADARAN

                                


ILMU,AMAL, DAN BENIH KESADARAN

Oleh : Ibnu Khaliqy

Taburlah benih kebaikan dan tumbuhkanlah benih kesadaran. Tidak banyak memang para pejuang yang bisa merasakan kemenangan atas hasil perjuangannya. Akan tetapi, itu bukan berarti harus berhenti melakukan sesuatu dan memperjuangkannya. Hidup ini menjadi sederhana saat kau mengetahui bahwaa semua ini hanyalah tentang kita, mengisi hari sesuai dengan alurnya, menanam benih kebaikan dalam setiap langkah perjuangan .Benih kebaikan itulah yang kemudian memberatkan timbangan amal, melancarkan langkah menuju jannah(surga).

Jangan salah, apa yang kita nikmati sekarang adalah benih yang telah ditaburi para pendahulu. Harusnya kita menyadari akan hal tersebut agar generasi selanjutnya bisa menikmati aktivitas kebaikan dan berbagai proses ketaatan dengan tenang dan lapang.

Sebagai kader perjuangan bangsa, kita harus mewarisi proses yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Dalam hal ini ada 3 proses penting yang harus dilakukan yaitu MENABUR, MEMBESARKAN, dan MENGUATKAN. Menabur benih kebaikan untuk memberi pijakan awal inspirasi kepada generasi selanjutnya untuk dibesarkan dan dikuatkan atau hanya membesarkannya saja atau mungkin hanya ikut menguatkan saja. Semuanya adalah pilihan, pilihan untuk diambil salah satunya, bukan untuk ditinggalkan.

Ketahuilah, berilmu saja tidak cukup, kita harus beramal. Hidup tidak akan menjadi lebih baik saat kita mengetahui saja, akan tetapi harus dilakukan. Melakukan sesuatu akan menghadirkan(menghasilkan) sesuatu. Orang bijak mengatakan, apa yang kau tanam, itu yang kau tunai. Jika mengetahui dan tidak dilakukan, itu sama saja dengan berdiam diri. Dalam ungkapan lain, dikatakan bahwa dunia ini berubah menjadi lebih baik bukan karena banyaknya orang yang berpengetahuan melimpah. Akan tetapi karna mereka melakukan dari hasil pengetahuan yang mereka miliki. Artinya ADA AKSI, TIDAK HANYA BERTEORI.

Mengutip pendapat Hasan Al Banna : Didunia ini, dari banyaknya jumlah manusia, hanya sedikit saja dari mereka yang sadar. Dan dari sedikit yang sadar itu, hanya sedikit saja yang berislam. Dan dari mereka yang berislam, jauh lebih sedikit lagi yang berdakwah. Dari mereka yang berdakwah, jauh lebih sedikit lagi yang berjuang. Dari sedikit yang berjuang, jauh lebih sedikit yang bersabar. Dan dari sedikit yang bersabar itu, hanya sedikit saja dari mereka yang sampai akhir perjalanan(istiqomah).

Suadara, Ketika kita dihadapkan pada keburukan, maka menjadi keharusan untuk menghentikannya, jika tidak maka keburukan akan merajalela. Saat kita mendiamkan perkara tersebut, kita pun ikut berdosa, Dosa karna tidak melakukan apapun, dosa karna tidak menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Saudaraku, saat kita tidak peduli padahal memiliki kemampuan untuk amar ma’ruf nahi munkar, maka perlu kiranya untuk kita berkaca pada firman Allah SWT, sebagai bahan perenungan sekaligus peringatan untuk kita semuanya :

Tahukah kamu orang yang mendustakan agama ? mereka adalah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memberi makan orang miskin. Maka celah bagi orang2 yang sholat, yaitu orang2 yang lalai dari sholatnya, orang2 yang berbuat riya dan enggan membantu dengan barang yang berguna. (QS. Al Maun). Allahu a'lam.

Semoga bermanfaat. Aamiin.
@muhasabah

Senin, 26 Juli 2021

MAGRIB MENGAJI SEBAGAI DASAR KEPRIBADIAN MASYARAKAT DANA MBOJO

MAGRIB MENGAJI SEBAGAI DASAR KEPRIBADIAN MASYARAKAT DANA MBOJO

Oleh : Ibnu Khaliqy

             Dana Mbojo  merupakan daerah yang sangat kental akan jiwa agamaisnya, masyarakatnya yang ramah tamah dan terbuka, menjadikan dana mbojo sangat di kenal dan disegani oleh daerah lain.
            Hal yang sangat melekat dalam kepribadian masyarakat dana mbojo pada dasarnya terletak pada nilai-nilai sosial yang diwujudkan dalam bentuk kegiatan keagamaan yang sering diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat.  Mengaji merupakan kegiatan yang sudah mendarah daging dalam setiap  pribadi masyarakat yang telah ditanamkan sejak dini, guna menjadikan  AL – Quran sebagai kitab suci sekaligus pedoman dalam segala aspek kehidupan.
             Upaya pembumian Al –Quran  menjadi harga mati masyarakat dana Mbojo untuk menunjukan jati diri yang sebenarnya, dimana di setiap surau dan rumah -rumah penduduk terdengar lantunan ayat-ayat suci Al – Quran yang dilantunkan oleh masyarakat dana Mbojo. Tua  muda berpadu dalam satu ikatan iman yang menaklukan suasana magrib yang penuh dengan kesunyian. Jiwa islami yang kini telah mendarah daging itu harus tetap dipertahankan bahkan harus dikembangkan sehingga nantinya menjadi pondasi untuk membangun dana mbojo kedepan yang lebih maju, tentu saja berlandaskan IMAN dan TAQWA.[1]
 
Kata kunci : Mengaji, Kepribadian, Keagamaan, Pedoman.
Dana merupakan bahasa Mbojo ( Bima ) yang berarti “tanah”.
Jadi dana Mbojo berarti tanah Mbojo/Bima atau daerah Bima.

Pentingnya peningkatan program magrib mengaji.
      Mengaji merupakan faktor yang sangat penting bagi umat Islam, khususnya bagi para pemimpin kota Bima. mengingat Kota Bima merupakan daerah yang kental dengan nuansa agamanya, sangatlah naif apabila terdapat pemimpin daerah yang tidak bisa mengaji karena bukankah Al – Quran merupakan dasar hukum dan kitab suci umat Islam yang selalu menjadi pedoman dalam segala aspek kehidupan.
Apabila pemimpin tidak bisa mengaji, patutkah menjadi contoh dan teladan bagi masyarakat yang nota bene mayoritas beragama Islam ini? Bukankah pada dasarnya pemimpin tidak hanya mengurus masalah politik dan pemerintahan tetapi juga mengurus persoalan ketimpangan moral yang merupakan efek dari persoalan sosial keagamaan. Hal ini acap kali menjadi masalah yang dihadapi di dalam kehidupan bermasyarakat.
       Dalam  menyelesaikan persoalan di dalam masyarakat, khususnya persoalan mengenai keagamaan, tentu kita  membutuhkan pemimpin yang paham tentang agama.  Sementara dasar dari agama tersebut tentu saja harus bisa mengaji dan merealisasikannya dalam kehidupan.[2]
      Belajar mengaji bagi masyarakat Bima pada masa-masa sebelumnya merupakan hal wajib. Oleh sebab itu, tidak heran banyak orang  tua yang menilai seseorang dari kemampuannya membaca Al -Quran. Alasannya, orang yang bisa membaca Al-quran dengan baik, dengan sendirinya dapat melaksanakan sholat dengan baik pula dengan demikian moralnya juga relatif baik. Bagi muda mudi Bima, umumnya orang yang tidak bisa mengaji acap kali disindir oleh rekan sebayanya sendiri. Sindirin-sindiran itu bukan sebagai bentuk penghinaan, melainkan sebagai motivasi agar setiap orang belajar membaca Al Quran dengan baik, kemudiaan mampu mengamalkannya dalam kehidupan nyata,sehingga terhindar dari pengaruh yang mengarah pada tindakan – tindakan negatif.[3]

Arus Globalisasi Penghambat Pelestarian Budaya Magrib Mengaji
       Dahulu antusiasme para orang tua untuk membawa anak-anak mereka belajar Al-quran pada guru ngaji sangat tinggi, anak-anak benar-benar dididik dengan ilmu agama, terutama mengaji. Keinginan mereka untuk menuntut ilmu membuat mereka rela untuk berkorban, baik itu harta benda maupun moril. Bahkan mereka rela berebutan untuk mengisi “oi padasa” tempat gurunya mengambil air wudhu. Mereka beranggapan bahwa dengan akhlaq yang demikian, ilmu yang diajarkan oleh gurunya akan mudah diterima dan di ridhoi Allah SWT.
    Kecintaan masyarakat Dana Mbojo terhadap Al-Quran dan keluhuran martabat yang dimiliki menjadikan Dana Mbojo begitu dikenal dan menjadi teladan bagi “dana makalai”. Tak heran bila Dana Mbojo sering dijadikan pusat kegiatan keagamaan. Hal lain yang membuat Dana Mbojo cukup dikenal adalah antusiasme  masyarakatnya yang benar-benar menjunjung tinggi nilai -nilai agama.
        Kini semangatpelestarian  program magrib mengaji mulai terkikis bahkan mulai hilang ditelan arus globalisasi yang telah mengobrak-abrik kepribadian dasar generasi muda Dana Mbojo. Dewasa ini sebagian besar anak-anak dan generasi muda waktunya dihabiskan di depan televisi, facebookan tanpa mengenal waktu dan selalu  online di internet. Mirisnya lagi waktu antara Maghrib dan Isya yag selama ini dikampanyekan oleh Pemerintah Daerah yang harus digunakan untuk mengaji malah digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat seperti yang telah disebutkan di atas. Bagaimanamungkin dapat menciptakan generasi  qur’ani jika tradisi buruk itu masih dilakoni.[4]
 
Upaya peningkatan program magrib mengaji dalam segala lingkup kehidupan.
        Tergerusnya tradisi magrib mengaji di kalangan masyarakat dana mbojo oleh pengaruh globalisasi menjadikan tradisi mulia ini dianak tirikan oleh kebanyakan generasi muda sekarang. Kecendrungan untuk menata sistematika kehidupan yang islami di Dana Mbojo memang memerlukan upaya yang  serius sehingga tidak sekedar  menjadi slogan, melainkan menjadi sebuah cita-cita luhur yang harus di wujudkan. Dalam hal ini peran masyarakat sangat penting dalam menyukseskan niat mulia tersebut.
       Pada dasarnya, upaya pelestarian kembali program magrib mengaji sangat bergantung pada peran “dou matua” (orang tua) dalam mengontrol  segala aspek kehidupan anak. Sebagai contoh kebiasaan anak setelah magrib adalah menonton televisi yang sebenarnya waktu antara magrib dan isya digunakan untuk mengaji. Untuk itu kemampuan dou matua dalam mengontrol anaknya akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan maupun terhambatnya progam magrib mengaji di dana mbojo.
        Pemerintah sebenarnya telah berupaya untuk menciptakan generasi yang cinta Al-quran. Salah satu cara yang telah
dilakukan oleh para pemerintah daerah  untuk mengembalikan tradisi yang dahulu pernah ada dengan memberikan penanaman nilai – nilai keagamaan yang mengarah pada peningkatan program magrib mengaji.
       Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an ( MTQ ), menjadi tradisi tahunan yang dilaksanakan demi terwujudnya  progam magrib mengaji yang merupakan pondasi kepribadian masyarakat Dana Mbojo. Namun dewasa ini, tradisi tersebut disalahartikan. Justru dianggap sebagai media untuk mendapatkan hadiah dan ketenaran, padahal tujuan dasar dari penyelenggaraan MTQ adalah untuk menumbuhkembangkan kecintaan terhadap membaca Al-Quran sehingga  tradisi magrib mengaji perlahan dapat terealisasi dengan baik sesuai dengan cita-cita luhur yang diharapkan.[5]

 Kesimpulan.
      Tradisi magrib mangaji yang begitu kental pada zaman dahulu menjadikan Dana Mbojo daerah yang erat akan nilai-nilai religius, hal ini terlihat dari antusiasme para masyarakat dalam membangun persatuan umat yang berlandaskan IMAN dan TAQWA.
       Kuatnya pondasi akhlaq yang mulia menjadikan masyarakat Mbojo mantoi kaya akan nilai-nilai luhur, sebab segala tingkah laku dan perkataannnya merupakan cerminan dari Al-Quran yang  dijadikan kitab suci sekaligus pedoman hidup yang hakiki.  Kecintaan membaca Al-Quran secara nyata memberikan kontribusi bagi para generasi muda untuk terus menanamkan rasa memiliki dan dimiliki  sebagai penopang kepribadian dasar masyarakat dana mbojo.
        Peranan pemerintah dalam upaya mewujudkan program  magrib mengaji sangatlah penting sebab pemerintah adalah penyelenggara utama daerah ini. Lebih dari itu, peranan orang tua sangatlah penting dalam mengotrol segala aspek kehidupan anak.
        Dewasa ini, segala tingkah laku anak-anak dan generasi penerus bangsa cendrung dipengaruhi oleh arus globalisasi. Oleh sebab itu kita harus bijak dalam menyikapinya khususnya tren penggunaan alat komunikasi dan jejaring sosial, Jangan sampai alat tekologi tersebut yang menyetir tingkah laku kita padahal yang sebenarnya kitalah yang menyetir alat teknologi tersebut yang dapat kita gunakan untuk memudahkan berbagai urusan kita. Di harapkan juga kita bijak dalam melangkah, bila kita sudah melangkah berarti kita sudah siap dengan  segala resiko yang akan terjadi baik atau pun buruk, semua pilihan itu ada di tangan anda.


  1Penulis adalah Seorang pelajar di Madrasah Aliah Negeri 2 Kota Bima,mengambil jurusan bahasa.Penulis berusaha  menjelaskan bagaimana dasar kepribadian masyarakat dana mbojo yang sesungguhnya,dimana dewasa ini program magrib mengaji hanyalah sebagai slogan harian yang tidak terealisasi dengan baik.
[2]  Pendapat Abdul Haris M.Pd, dari Akademisi Sekolah Tinggi  Keguruan dan Ilmu Pengetahuan.
[3]  Di kutip dari pendapat Anwar Hasnun dalam bukunya yang berjudul Prinsip Hidup Orang  Bima,dalam tradisi bima,conton lain pentingnya belajar membaca al – Quran yaitu bahwa seorang lelaki yang ingin melemar/menikah dengan seorang wanita, harus bisa membaca al – Quranul karim.
[4]  Pendapat dari penulis,pernyataan yang disampaikan penulis berdasarkan realita yang terjadi di masyarakat.Kecendrungan terhadap arus globalisasi membuat generasi muda dana mbojo di perbudak teknologi.Kekuatan iman yang dahulu begitu melekat pada setiap individu,dewasa ini seakan musnah di telan jurang kemajuan.kata oi padasa(bahasa bima) berarti air tempayan, yang biasa di gunakan untuk mengambil air wudhu. Kata dana makalai memiliki pengertian daerah yang lain, yaitu daerah selain daerah bima seperti Dompu,Sumbawa,dan pulau Lombok.
[5]  Pendapat dari H.M. Qurais,wali kota bima.upaya yang kini sedang dilancarkan pemerintah kota bima demi peningkatan program magrib mengaji tidak akan berhasil tanpa ada partisipasi dari lapisan msyarakat, untuk itu diperlukan peran aktif orang tua dalam mewujudkan cita – cita tersebut,khususnya dou matua jangan dijadikan tradisi tersebut  hanya sekedar selogan saja,tetapi lebih jauh untuk dijadikan dasar dalam kepribadian masyarakat dana mbojo. Penyelenggaraan MTQ adalah langkah nyata PEMKOT Bima dalam peningkatan program magrib mengaji. Kata dou matua adalah bahasa bima yang berarti orang tua.

Minggu, 18 Juli 2021

MASJID SEBAGAI BASIS KEKUATAN DOU LABO DANA MBOJO

     

                                                Masjid Al-Munawwarah Sape, Kab. Bima (Sumber : maps123.net)                               
                                                           

MASJID SEBAGAI BASIS KEKUATAN DOU LABO DANA MBOJO

Penulis : Ibnu Khaliqy
Prolog
Sebagai prolog, perlu kita pahami terlebih dahulu apa sebenarnya yang dimaksud dengan masjid dan bagaimana basis kekuatannya bagi ummat. Secara umum masyarakat pasti tahu bahkan orang awam pun  mengerti bahwa masjid adalah rumah Allah dimuka bumi ini. Tatkala kita ingin mencari surga dunia, maka disanalah bermuara kepingan surga yang sesungguhnya. Masjid juga menjadi tempat dimana kita mengadu, merintih, serta menyatakan kesyukuran atas setiap peristiwa yang dilewati. Dengan begitu, menjadi jelas bahwa masjid merupakan sarana pendekatan sekaligus penyerahan diri seorang hamba kepada Tuhannya sebagai penanda seseorang itu mematuhi seluruh perintah serta menjauhi segala laranganNya.

Kemudian jika kita merujuk pada perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW maka akan ditemukan bagaimana masjid menjadi pilar kekuatan serta peradaban ummat waktu itu. Dari sini masyarakat dibentuk dan dibina dengan penuh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Konsep yang dihadirkan Rasulullah tersebut memberi kekuatan maha dahsyat dalam berbagai aspek kehidupan, diantaranya yang paling menonjol ialah sosial ekonomi dan politik. Sejarah membuktikan bagaimana Kaum Aus dan khazraj mampu dipersatukan dalam naungan islam, demikian juga dengan kaum anshar dan muhajirin. Hal tersebut tidak terlepas dari peran masjid yang tidak hanya berpusat pada ritual keagamaan semata namun lebih dari itu memberikan ruang pada aspek lainnya bagi kemajuan peradaban islam.
Tantangan dan Tindakan
Hari ini, di tanah Bima tercinta tantangan begitu besar di depan mata. Dinamika sosial yang beragam seakan melengkapi kompleksitas problematika dinegri tepian air ini. Degradasi moral disertai pudarnya nilai-nilai luhur budaya daerah tak kunjung sembuh dari sakitnya. Padahal berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah daerah dari masa ke masa namun belum mampu memberikan perbaikan yang berarti bagi dou labo dana Mbojo. Salah satu program pemerintah yang sangat menarik perhatian waktu itu ialah program magrib mengaji. Suatu langkah yang dipandang efektif untuk membendung budaya lokal dari pengaruh negatif tayangan televisi dan kemajuan teknologi. Selain itu juga program tersebut sebagai langkah strategis dalam menghidupkan kembali nilai-nilai islam dan kearifan lokal yang selama ini hampir atau bahkan dilupakan masyarakatnya.

Kaitan dengan program magrib mengaji sebagaimana tersebut diatas belum mampu secara optimal menjawab tantangan Bima hari ini dikarenakan belum adanya tindakan konkrit dari pemerintah melalui kebijakannya. Maka pada kesempatan yang berbahagia ini perlu kami sampaikan bahwa pemerintah daerah selaku pemangku kekuasaan tertinggi harus melakukan revitalisasi atau optimalisasi fungsi masjid sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah. Jangan terjebak dikotomi politisasi masjid atau masjid politis, inilah saatnya masjid menjadi basis kekuatan serta peradaban bagi  dou labo dana Mbojo. Sebab dari masjid ekonomi diberdayakan, dari masjid kebudayaan islam serta kearifan lokal dikenalkan, dan dari masjid pula pengetahuan islam menemukan kembali kejayaannya.
Disisi lain, dalam kehidupan bermasyarakat kerap ditemukan kasus dimana masjid hanya dijadikan sarana pemberitaan kematian. Distorsi fungsi masjid yang masih kurang dipahami oleh masyarakat ini perlu disosialisasikan oleh semua pihak. Tindakan yang selama ini dilakukan seakan memberi kesan bahwa  masjid hanyalah tempat ibadah dan pemberitaan kematian semata. Selain itu peran atau kontribusi masyarakat terhadap masjid hanya terlihat pada hari tertentu saja, misalnya pada hari besar islam atau ketika ada hajatan lainnya. Kondisi ini membuktikan bahwa antara masjid dan ummat masih ada tabir pemisah yaitu ritual atau doktrin agama, bukan lagi berdasarkan kesadaran untuk membangun dou labo dana  menuju paradaban yang gemilang, maka dari itu hal ini menjadi tantangan bagi semua pihak di dana Mbojo tercinta yang harus segera direalisasikan dalam bentuk kebijakan(pemerintah) dan tentunya harus diiringi dengan dukungan masyarakat secara nyata.
Solusi Konkrit
Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan untuk menjadikan masjid sebagai basis kekuatan ummat, misalnya dibidang ekonomi dengan menerapkan program “lumbung masjid”. Program ini bertujuan menampung sumbangan hasil panen masyarakat berupa padi/beras atau lainnya sehingga bisa didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan tanpa harus menunggu  pembagian zakat mal atau raskin dari pemerintah. Tentu hal ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat serta mengurangi angka kriminalitas. Selain itu, dengan pengelolaan atau manajemen yang baik maka masjid bisa membangun badan usaha milik masjid (asset) berupa mini market atau lainnya, dengan demikian akan memudahkan masjid dalam menjalankan segala bentuk kegiatannya secara maksimal. Hal tersebut juga menjadi point penting sehingga strategi pencapaian kemakmuran masjid bagi kemakmuran ummat dan lingkungannya bisa terwujud.

Kemudian dibidang pendidikan dan keagamaan bisa dilakukan dengan upaya peningkatan kegiatan ketakliman atau kajian keagamaan. Dalam hal ini masjid menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan karakter sebagai seorang muslim. Tua-muda, besar-kecil, pimpinan maupun bawahan menjadi satu kesatuan dalam majlis ilmu. Tidak ada pembeda diantara mereka melainkan taqwa, ummat betul-betul dibina menuju masyarakat madani yang diimpikan. Untuk itu pemerintah harus memberikan regulasi kepada para mubalig atau kaum intelektual (Dosen) untuk menyampaikan kajian-kajian sebagai mitra pemerintah, Dengan begitu pemerintah daerah lebih terbantu dan bisa melangkah pada tugas lainnya.
Selanjutnya dalam bidang sosial kemasyarakatan, kami merasa perlu adanya program “ronda subuh”. Program ini bertujuan membantu masyarakat untuk bangun melaksanakan sholat subuh berjamaah sebagaimana tradisi membangunkan makan sahur pada bulan puasa. Hal ini dirasa efektif, setidaknya memberikan sinyal kepada masyarakat untuk bangun melaksanakan sholat subuh dan mempersiapkan segala sesuatu untuk aktivitas hari itu. Artinya masyarakat dilatih untuk tidak bermalas diri melainkan mengawali pagi dengan menyembah Tuhan yang maha esa sembari berdoa  untuk dimudahkan dalam kompetisi hidup pada hari itu (fastabiqul khairat).
Semoga tulisan singkat ini menjadi bahan refleksi bagi siapapun yang membacanya, tentunya kami berharap tidak terbatas pada pemikiran semata, namun lebih dari itu mampu diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, khususnya dou labo dana Mbojo tercinta.

Kemajuan Daerah Hanyalah Utopis Jika Egosentris dan Sektarian Menggorogoti Akal Mahasiswa

  Kemajuan Daerah Hanyalah Utopis Jika Egosentris dan Sektarian Menggorogoti Akal Mahasiswa Oleh : Defri Ramadhan  (Ketum Kerukunan Keluarga...