Minggu, 03 Juli 2022

Kemajuan Daerah Hanyalah Utopis Jika Egosentris dan Sektarian Menggorogoti Akal Mahasiswa

 


Kemajuan Daerah Hanyalah Utopis Jika Egosentris dan Sektarian Menggorogoti Akal Mahasiswa

Oleh : Defri Ramadhan 
(Ketum Kerukunan Keluarga Sape Malang)

     Pada dasarnya transisi status dari siswa menjadi mahasiswa adalah awal peristiwa terjadinya perubahan skala besar pada individu. Lingkungan kemahasiswaan sangat berbeda jauh dengan lingkup siswa. Proses transisi tersebut jika direnugkan merupakan suatu hal yang sakral dalam hidup, ketika berani hadir dengan mengemban identitas sebagai civitas akademik dengan pola pikir atau mind set , kapasitas dan kapabilias yang lebih maju dan menjadi senjata utama serta pembeda. Sehingga tidak diragukan bahwa kekuatan tersebut menjadi indikator untuk membawa suatu perubahan di Daerah asal atau tempat kelahirannya. Akan tetapi, semua tergantung pada orientasi yakni mau disalurkan di mana ilmu yang didapatkan. Hal tersebut tergantung pada civitas akademik tersebut.

     Civitas akademik seperti mahasiswa seharusnya memiliki peran sentral di masyarakat dengan metode penyaluran atau transfer ilmu , ide dan gagasan untuk membawa kemajuan pada skala mikro maupun makro. Akan tetapi, hal tersebut hanyalah bualan belaka ketika tipe mahasiswa dominan apatis yang kemudian mengarah pada egosentris dan sektarian. Ketiga hal tersebut seakan membudaya dan kemudian menjadi prinsip dan arah hidup mahasiswa yang seharusnya memberikan bukan lagi menawarkan sesuatu perubahan di skala sosial-kemasyarakatan. Sehingga tidak salah bahwa hari ini, faktanya entitas mahasiswa hadir dalam bentuk pasif ketika pulang ke daerahnya masing-masing.

        Perlu disadari, bahwa tidak bisa menafikkan kehadiran persoalan-persoalan yang menjadi stimulus tumbuhnya perspektif apatis, egosentris dan sektarian pada skala sosial khususnya mahasiswa merupakan bobroknya pemerintahan. Tiap-tiap daerah memiliki pola dan metode pemerintahan yang berbeda. Hal tersebut dipengaruhi tatanan struktur sosial dan budaya. Kemudian teknologi dan informasi yang semakin berkembang menjadi tantangan besar bagi para mahasiswa yang dibaluti istilah agent of change akibat pergesaran tatanan sosial dan budaya di masyarakat. Sehingga kesulitas-kesulitan yang ada kemudian menjadi dasar lahirnya sifat apatis, egosentris dan sektarian.

       Secara garis besar, pengertian dari apatis, egosentris dan sektarian merupakan sebuah pola pikir atau prinsip yang mengarah pada sikap intoleran baik skala sosial maupun pemikiran dalam aspek aplikatifnya. Sebab personalia yang intoleran akan mengarah pada sifat individualistis karena hanya memikirkan dirinya sendiri. Pada konteks mahasiswa, jika berdiri atas konsep tersebut maka dipastikan segala impian dan cita-cita sebagai entitas civitas akademik secara normatif hanya sekedar halusinasi saja. Sebab, identitas sebagai mahasiswa perlu dimaknai secara mendalam perannya dalam posisi penengah antara pemerintah dan rakyat. Di mana hadir sebagai penyaring kebijakan pemerintah dan penyalur kepentingan atau kebutuhan rakyat.

     Tidak sedikit mahasiswa memiliki orientasi untuk memperjuangkan nasib kembali ke tanah kelahiran atau daerah masing-masing. Dengan cita-cita dapat menjadi orang sukses dan memberikan pengaruh besar terhadap kemajuan daerah. Namun rencana hanyalah omong kosong ketika pergerakan secara sosial dari skala kecil seperti akar rumput tidak ada pada pola pikir dan semangat juang mahasiwa sebagai generasi yang membawa perubahan pada lini struktur sosial maupun struktur politik. Maka tidak heran faktanya ketimpangan ekonomi maupun sosial yang terjadi di lingkup daerah bukan lagi kurangnya perhatian negara ataupun pengaruh kandungan kekayaan alam daerah sebagai stimulus ekonomi. Akan tetapi peran mahasiswa belum memberikan pengaruh pada kapasitas pengembangan masyarakat, sehingga masyarakat dapat mengikuti perkembangan era globalisasi di mana rakyat dituntut untuk andil dalam era teknologi dan informasi dan oengaruhnya dalam segala lini kehidupan. Maka dari indikator tersebut, menegaskan bahwa keberadaan mahasiswa sebagai pembawa kemajuan dan perubahan di daerah bisa dikatakan utopis.

       Hari ini, mahasiswa harus kembali pada pengertian atau pemaknaan posisinya sebagai element sentral yang memberikan keseimbangan hubungan vertikal antara pemerintah dan rakyat. Ssehingga pemikiran-pemikiran yang konstruktif harus menjadi landasan dalam berpetualang di daerah masing-masing. Sebab era globalisasi bukan lagi pada perihal individualistik dan keberhasilan harus melalui pola kolaboratif lewar pergerakan kelompok, komunitas dalam skala akar rumput. Maka mahasiswa harus bisa memaknai secara aplikatif ilmu pengetahuan yang didapatkan selama 4 tahun menjadi civitas akademik dan tidak hadir sebagai sosok asing dilingkungan masyarakat.

        Pada akhirnya, semua cita-cita dan harapan masyarakat yang pasrah akan sistem baik dalam struktut politik, sosial dan ekonomi bisa dituangkan di wadah entitas mahasiswa yang memiliki kapasitas dan kapabalitas dalam memperjuangkannya. Keberadaan mahasiswa bukan sebagai pembuktian untuk mendapatkan pengakuan, akan tetapi hadir sebagai jembatan penghubung yang sakral sebagaimana sakralnya proses transisi dari level siswa menjadi mahasiswa. Kemajuan bangsa pada skala nasional dan khususnya skala kedaerahan bergantung pada bagaimana peran mahasiswa dalam mengambil peran di lingkup kemasyarakatan dengan metode transformatif untuk menjadikan masyarakat berkembang mengarah selaras dengan modernitas atau tuntutan zaman. Maka prilaku egosentris dan sektarian bukanlah karakteristik dari mahasiswa yang memiliki peran vital dilingkup kenegaraan dan lebih khususnya kedaerahan.


Note :

Facebook penulis : Defri Ramadhan













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kemajuan Daerah Hanyalah Utopis Jika Egosentris dan Sektarian Menggorogoti Akal Mahasiswa

  Kemajuan Daerah Hanyalah Utopis Jika Egosentris dan Sektarian Menggorogoti Akal Mahasiswa Oleh : Defri Ramadhan  (Ketum Kerukunan Keluarga...